Uncategorized

Polri Ungkap Perdagangan Orang Modus Kirim Mahasiswa Magang ke Jerman

Bareskrim Polri mengungkap jaringan internasional tindak pidana perdagangan orang (TPPO) bersama dengan modus mengirim mahasiswa untuk magang ke Jerman melalui program Ferienjob.

“Namun, para mahasiswa dipekerjakan secara nonprosedural supaya membuat mahasiswa tereksploitasi,” kata Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, dalam keteranganya, Selasa (19/3/2024).

Dari pengungkapan persoalan ini keseluruhan ada lima tersangka yakni, ER dengan sebutan lain EW (39) A dengan sebutan lain AE (37), seorang slot spaceman perempuan yang keduanya waktu ini ada di Jerman. Lalu ada laki-laki berinisial SS (65) dan MZ (60), dan juga perempuan berinisial AJ (52) bersama dengan peran yang berbeda.

Dalam perkara Ferienjob ini, kita telah menetapkan lima orang WNI sebagai tersangka, yang mana dua orang tersangka keberadaannya di Jerman,” kata Djuhandhani.

Karena ada tersangka berasal dari Jerman, maka Djuhandhani mengemukakan pihaknya tengah berkoordinasi bersama dengan pihak Divisi Hubungan Internasional Polri dan KBRI Jerman untuk penanganan terhadap dua tersangka tersebut.

Awal mula persoalan perdagangan orang ini terbongkar berawal berasal dari KBRI Jerman yang mendapat aduan berasal dari empat mahasiswa setelah mengikuti program Ferienjob di Jerman. Dengan melibatkan 33 universitas yang ada di Indonesia untuk diberangkatkan ke Jerman.

Sebanyak 1.047 mahasiswa diberangkatkan oleh PT Cvgen dan PT SHB. Mereka lantas dibebankan biaya pendaftaran sebesar Rp150.000 untuk dikirim ke rekening atas nama CV-Gen dan termasuk membayar sebesar 150 Euro untuk pembuatan LoA (Letter of Acceptance) kepada PT SHB.

“Karena korban telah diterima di agency runtime yang berada di Jerman dan waktu pembuatannya sepanjang tidak cukup lebih dua minggu,” ujar Djuhandhani.

Setelah LoA selanjutnya terbit, kemudian korban mesti membayar sebesar 200 Euro kepada PT SHB untuk pembuatan approval otoritas Jerman (working permit) dan penerbitan surat selanjutnya sepanjang satu sampai dua bulan.

Semua biaya itu nantinya jadi beberapa syarat dalam pembuatan visa. Para mahasiswa pun dibebankan manfaatkan dana talangan sebesar Rp30.000.000 sampai Rp50.000.000 yang nantinya bakal dipotong berasal dari penerimaan gaji setiap bulannya.

“Bukan cuma itu saja, para mahasiswa setelah tiba di Jerman langsung disodorkan surat kontrak kerja oleh PT SHB dan working permit untuk didaftarkan ke Kementerian Tenaga Kerja Jerman dalam bentuk bhs Jerman yang tidak dimengerti oleh para mahasiswa,” tuturnya.

“Mengingat para mahasiswa telah berada di Jerman, supaya sudi tidak sudi diberi tanda tangan surat kontrak kerja dan working permit tersebut,” tambah dia.

Dalam kontrak kerja tertuang biaya penginapan dan transportasi sepanjang berada di Jerman dibebankan kepada para mahasiswa yang bakal dipotong berasal dari gaji yang didapatkan para mahasiswa. Mereka bakal melaksanakan Ferienjob dalam kurun waktu tiga bulan sejak Oktober 2023 sampai Desember 2023.

Modus Tersangka

Namun, setelah diusut ternyata program Ferienjob bukan merupakan bagian program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) berasal dari Kemendikbud Ristek. Sementara itu, Kemenaker membuktikan program Ferienjob tidak mencukupi beberapa syarat magang di luar negeri.

“Yang mana program selanjutnya dulu diajukan ke Kementerian tapi ditolak, mengingat kalender akademik yang ada di Indonesia tidak sama bersama dengan kalender akademik yang ada di Jerman,” sadar Djuhandhani.

“Mekanisme program pemagangan berasal dari luar negeri yakni melalui usulan berasal dari KBRI atau kedubes negara terkait selanjutnya. Jika dinilai berguna dan cocok bersama dengan kebijakan yang ada di lingkungan Kemendikbud Ristek, maka bakal diterbitkan surat endorsement bagi program tersebut,” tambahnya.

Untuk modus kelima tersangka yakni menawarkan ke beraneka universitas yang ada di Indonesia tentang program Ferienjob yang merupakan program magang.

“Yang mana program Ferienjob tidak diakui oleh Kemendikbud Ristek, tapi selalu mengirimkan mahasiswa untuk magang mengikuti program Ferienjob yang kenyataannya dijalankan seperti buruh di negara Jerman,” tutur Djuhandhani.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat bersama dengan Pasal 4, Pasal 11, Pasal 15 UU No 21 Tahun 2007 tentang TPPO Jo Pasal 81 UU No 17 Tahun 2017 tentang pemberian pekerja migran.