Uncategorized

Musik Pop di Tangan Anak Muda Remaja

Menurut Wikipedia, W.R. Supratman menciptakan lagu “Indonesia Raya” di kala ia berusia 21 th. pada 1924 di Bandung. Yang jelas, peristiwa mencatat bahwa pada 28 Oktober 1928, di sebuah kongres pemuda, “Indonesia Raya” dimainkan secara instrumentalia olehnya bersama dengan biola.

Itulah getaran seniman muda di eranya. W.R. Supratman tergerak untuk menggubah lagu, yang kemudian menjadi “Indonesia Raya” sehabis ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul yang menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Jauh ke depan, cerita berkenaan tantangan yang dialamatkan ke anak muda, termasuk berjalan pada Eros Djarot, hingga kemudian tercipta link spaceman gacor album soundtrack film Badai Pasti Berlalu. Konon ini berkenaan Eros mengomentari sutradara Teguh Karya berkenaan soundtrack filmnya, dan Karya menantang Eros untuk memperlihatkan karyanya. Selain itu, jangan lepaskan termasuk terlibatnya romansa khas anak muda. Eros tengah mabuk kepayang pada seorang gadis kala itu– segi penting yang menjadi stimulan gubahannya. Jika bukan di pundak hati anak muda, kemungkinan sesungguhnya sulit mengemban gagasan lagu cinta puitis semenggebu-gebu itu. Pada lirik-liriknya, kita sanggup membaca didih darahnya. Masterpiece pun tercipta.

Ada ulang anak muda, kemungkinan kala itu belum 20, yang bukan cuma layaknya tertantang, lebih-lebih ia sebabkan manifesto—musik dan lirik—“Selangkah ke Seberang”. Fariz, kemudian diusulkan oleh Chrisye untuk memakai identitas “nama beken” Fariz RM , tidak main-main bersama dengan komposisi dan kata-katanya yang sesungguhnya nyebrang jalur musik pop Indonesia biasanya pada kala itu. Fariz sesungguhnya sejak kecil dekat bersama dengan musik, bersama dengan alat-alat band, bersama dengan piano, tapi kemauan anak muda untuk mendobrak sanggup menjadi kuncinya.

Masih di kisaran jaman yang sama, Guruh dan Keenan, keduanya kala umur awal 20an, bersama dengan Gipsy sebabkan album Guruh Gipsy yang super istimewa! Nampaknya tidak wajib tersedia yang diceritakan ulang berkenaan album ini. Hasrat anak muda untuk berbeda, beridentitas, menyadari terasa. Kesemuanya dieksekusi bersama dengan sebuah proyek yang ambisius. Masa muda menang sekali lagi.

Meskipun begitu, tentunya lagu bagus, inovasi, tidak cuma sanggup diciptakan oleh anak muda. Tentu banyak termasuk yang “tua-tua keladi” Namun sulit dipungkiri, bahwa stimulan anak muda punyai tenaga yang sanggup terlihat tak terkira.

Lalu, tentu saja Iwan Fals. Usia 13, Fals telah terasa ngamen di Bandung, pemberontakan mampir pagi-pagi. Pada album debut Sarjana Muda, di kala umur Iwan sendiri belum mencukupi untuk gelar itu, tetap 20 tahun, lagu-lagunya menebarkan protes bersama dengan langkah yang badung, tapi senantiasa matang dan dewasa. Anak muda bahaya!

Kalau di lokasi jazz? Hey, hingga bangkotan pun umur musik jazz di Indonesia, tentu senantiasa disebut nama prodigy kita: Indra Lesmana. Saat bocah, Indra telah jago. Ketika menjadi anak muda, Lesmana rekaman dan hasil bunyinya rupawan.

Masih banyak ulang umpama bagaimana anak muda mendobrak bersama dengan ragam estetikanya. Ada lagu “Dan” dari Sheila on 7, album debut mereka beredar pada 1999, di kala Eros tetap 20 dan Duta di 19. Bagaimana So7 meramu lagu-lagunya, hingga sanggup menjadi sedemikian khasnya itu, menyadari tidak sanggup dilepaskan dari konteks mereka sebagai anak muda 1990an di Yogyakarta.