Uncategorized

Ini Dia Jenis Tarian Tradisional Aceh

Tari merupakan salah satu keragaman dan kekayaan budaya di Indonesia. Tari punya ciri khas tertentu, mulai dari jenis, macam, bentuk, karakter, pakaian adat, aksesoris, dan perlengkapan yang dapat menopang suatu identitas daerah.

Seperti halnya provinsi Aceh yang punya product budaya seni tari tradisional Aceh. Tari tradisional Aceh berkembang secara turun temurun dan menjadikannya semacam identitas budaya bagi masyarakat Aceh.

Ragam style tari tradisional Aceh di antaranya adalah Tari Saman Meuseukat, Tari Likok Pulo Aceh, Tari Laweut, Tari PHO, Tari Seudati, Tari Rencong, Tari Ratoh Duek, Tari Guel, Rapai Geleng, dan Tari Tarek Pukat.

Berikut penjelasannya:

Tari Saman Meuseukat

Tari saman merupakan salah satu mix parlay tarian tradisional Aceh yang berasal dari suku Gayo. Tari saman merupakan hasil karya dari seorang yang bernama Syekh Saman.

Gerakan tangan dan syair yang diciptakan berupa tepuk tangan, tepukan dada, tepukan di atas lutut, dan mengangkat tangan ke atas secara bergantian.

Penari tari Saman bakal mengenakan pakaian khusus berwarna-warni. Selama tari saman dipentaskan, penari bakal membentuk format pola lantai yang khas. Dalam jalankan tarian, penari kudu berbaris membentuk garis lurus ke samping.

Makna dari tari Saman adalah manusia merupakan makhluk sosial sehingga butuh manusia lain.

Pola duduk bersama kaki yang bersender layaknya duduk di pada dua sujud terhitung melambangkan umat Islam yang sedang membentuk saf dikala sedang jalankan salat.

Tari Likok Pulo Aceh

Tari likok Pulo lahir terhadap tahun 1849 diciptakan oleh ulama tua dari Arab yang terdampar di pulau Aceh yang bernama Syekh Ahmad Badron.

Secara bahasa, tarian tradisional Aceh ini berasal dari dua kata, yaitu ‘likok’ yang berarti gerak tari, dan ‘pulo’ yang berarti pulau.

Pulau yang dimaksud adalah sebuah pulau kecil yang terdapat di ujung pelosok utara pulau Sumatra yang sering disebut sebagai pulau beras (Breuh).

Tari likok Pulo biasanya digelar sesudah menanam padi atau menjelang masa panen tiba. Tarian ini terhitung disertai bersama pemukulan rapai atau alat musik untuk mengatur gerak tari. Para penari terhitung disempurnakan bersama properti bambu (boh Liko).

Tari Laweut

Tari laweut berasal dari kata selawat, yaitu berupa sanjungan yang bertujuan kepada junjungan nabi Muhammad SAW. Syair-syair yang mengiringi tarian ini sebetulnya banyak bershalawat atas Nabi.

Fungsi utama tari ini, yaitu sebagai media dakwah yang mengimbuhkan ilmu perihal agama Islam.

Tari laweut ini diiringi bersama suara yang berasal dari badan penari itu sendiri, layaknya tepukan dada, tepukan tangan, hentakan kaki, dan vokal syahi yang menyanyikan syair.

Syair-syair selanjutnya mengandung pesan-pesan tersendiri perihal keimanan, pembangunan, kemasyarakatan, dan lain-lain.

Tari PHO

Pho berasal dari kata “peuba-e”, berarti meratoh atau meratap. PHO adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat Aceh kepada yang Mahakuasa yaitu Po Teu Allah.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita terhadap zaman dahulu dikerjakan dikala tersedia orang besar atau raja-raja yang meninggal.

Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak kembali dikerjakan terhadap saat kematian, dan kini menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan terhadap upacara adat.

Tari Seudati

Tari seudati berasal dari bhs Arab ‘syahadat’ yang berarti bersaksi atau pengakuan terhadap tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah di dalam Islam.

Ada terhitung yang mengatakan bahwa seudati berasal dari kata ‘seurasi’ yang berarti serasi atau kompak.

Berdasarkan sejarahnya, tarian ini mengisahkan berbagai macam masalah yang berjalan sehingga masyarakat Aceh memahami cara menyelesaikannya bersama-sama. Tari ini dibawakan oleh 8 orang penari dan 2 orang syahi yang berperan sebagai vokalis.

Tari seudati punya keunikan tersendiri, yaitu dibawakan tanpa iringan alat musik apa pun sebagai pengiring, tarian ini cuma diiringi bersama lantunan syair dari Aneuk syahi.