Tari Jaipong
Seni Tari

7 Tarian Khas Asal Jawa Barat Paling Populer

Jawa Barat tenar bersama keseniannya yang menarik. Seperti tarian khas Jawa Barat yang memiliki ciri dan keunikannya sendiri. Dari begitu banyaknya tarian Jawa Barat yang ada, berikut ini 7 tarian khas Jawa Barat yang paling tersohor. Selain akan membahas tentang artikel tersebut, kami juga akan sedikit membahas tentang permainan dari situs judi online yang tersedia di link mahjong slot dan joker123 login

1. Tari Jaipong

Siapa yang tak tahu jika Tari Jaipong adalah tarian khas Jawa Barat. Dikutip berasal dari laman jabarprov.go.id, kata jaipong bersal berasal dari masyarakat Karawang yang bersal berasal dari bunyi kendang sebagai iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi jaipong yang secara onomotofe. Tepak kendang berikut sebagai iringan tari pergaulan di dalam kesenian banjidoran yang berasal berasal dari Subang dan Karawang yang selanjutnya menjadi tenar bersama makna jaipongan.

Tari Jaipongan terlihat pada tahun 1980an yang lahir fari kekreatifitasan para seniman Bandung, keliru satunnya yakni Gugum Gumbira. Jaipong merupakan pengembangan berasal dari ketuk tilu andaikata dilihat berasal dari perkembangannya dan basic koreografernya.

Karya jaipongan pertama yang diciptakan oleh Gugum Gumbira adalah tari daun pulus keser bojong dan tari Raden Bojong yang berpasangan putra- putri. Tarian berikut terlalu digemari dan tenar di seluruh Jawa Barat termasuk Kabupaten Bandung karya lain yang diciptakan oleh Gugum diantaranya toka-toka, setra sari, sonteng, pencug, kuntul mangut, iring-iring daun puring , rawayan, kaum anten dll. termasuk para penari yang tenar diantaranya seperti Iceu Efendi, Yumiati Mandiri, Mimin Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Diar, Asep Safat.

Daya tarik tarian berikut bagi kaum muda selain gerak berasal dari tari yang dinamis dan tabuhan kendang mempunyai mereka untuk menggerakan tubuhnya untuk menari supaya tari jaipongan sebagai keliru satu identitas kesenian Jawa Barat.

2. Tari Merak

Tarian ini adalah kesenian yang berasal berasal dari tempat Bandung. Tarian ini terinspirasi berasal dari burung merak yang mempunyai bulu yang indah yang dilukiskan lewat kostum yang dipakai oleh para penarinya.

Bukan penggambaran Merak betina, Tari Merak ini justru merupakan penggambaran tingkah laku burung merak jantan yang memiliki keindahan bulu ekor yang memikat perhatian.

Dilansir berasal dari website formal Kemdikbud, Tari Merak diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri pada tahun 1955. Gerakan tarian ini merupakan pengembangan berasal dari tipe tari Sunda yang dikuasai oleh Tjetje. Mulanya, penciptaan tarian ini bertujuan untuk menghibur para delegasi Konferensi Asia Afrika di dalam acara resepsi di Bandung tahun 1955.

Baca juga:

Beberapa Tarian Jawa Tengah Yang Masih Lestari Hingga Saat Ini

Mengenal Beragam Musik Tradisional, Ciri-ciri, Fungsi dan Ragam Jenisnya

Sejak diciptakan, Tari Merak Sunda karya Tjetje hanya dipertunjukkan empat kali, yakni di dalam rangkaian kesibukan KAA di halaman belakang Gedung Pakuan pada tahun 1955; tahun 1955 di Hotel Orient, Bandung; tahun 1957 di dalam rangka menyambut Kedatangan Voroshilof, Presiden USSR (Rusia) di Gedung Pakuan; dan tahun 1958 di dalam pertunjukan tari di YPK.

Sepeninggal Rd. Tjetje Somantri pada Tahun 1963, Irawati Durban sebagai muridnya menyempurnakan tatanan Tari Merak ciptaan Rd. Tjetje Somantri bersama produksi ulang susunan koreografi tariannya.

Kemudian pengembangan pada Tari Merak Sunda ini pertama kali digagas oleh Irawati Durban saat Grup Viatikara diberi tugas oleh Presiden Soekarno untuk mempersiapkan rombongan kesenian ke New York Fair 1965.

Tari Merak ini biasa ditarikan oleh perempuan bersama mengenakan baju yang terlalu glamor, estetis, eksotis, dan juga komposisi kinestetiknya. Hal ini menjadikan Tari Merak Sunda memiliki energi pikat tersendiri bagi siapapun yang menari dan menontonnya.

3. Tari Topeng

Tarian khas Jawa Barat asli berasal dari tempat Cirebon, termasuk Indramayu. Disebut tari topeng, gara-gara saat menari penarinya menggunakan topeng. Tarian ini telah mengalami perkembangan di dalam gerakan maupun cerita. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian solo, atau bisa termasuk dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu style lainnya berasal dari tari topeng ini adalah Tari Topeng Kelana Kencana Wungu yang merupakan rangkaian tari topeng tipe Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-tergila kepadanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter melukiskan perwatakan manusia. Kencana Wungu, bersama topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah tetapi anggun. Menak Jingga (disebut termasuk Kelana), bersama topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, temperamental dan tidak sabaran. Tari ini karya Nugraha Soeradiredja.

Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, dan juga iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain berasal dari tari topeng.

Hingga kini, sanggar-sanggar tari tetap banyak yang mengajarkan Tari Topeng. Salah satu sanggar tari topeng yang tersedia di Indramayu adalah danggar tari topeng Mimi Rasinah, yang terdapat di Desa pekandangan, Indramayu. Mimi Rasinah adalah keliru satu maestro tari topeng yang kendati mengalami kelumpuhan sejak 2006 ia tetap aktif menari dan mengajarkan kesenian tari topeng. Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010.

4. Tari Sintren

Tarian khas Jawa Barat yang lainnya yang berasal berasal dari Cirebon yakni Tari Sintren. Tarian ini disebut punya kandungan unsur magis supaya tidak boleh untuk dibikin mainan. Tari sintren ini umumnya dibawakan oleh seorang wanita yang mengenakan kostum tertentu dan berkacamata hitam, sebelum akan melakukan tarian ini umumnya sang penari akan masuk ke di dalam sebuah kurungan yang ditutup oleh kain.

Nama sintren yang tersedia pada tarian ini ternyata merupakan gabungan berasal dari dua kata yakni si dan tren yang mana di dalam bahasa Jawa kata si merupakan sebuah ungkapan panggilan yang memiliki arti ia atau dia, tetapi kata tren berasal berasal dari kata tri atau putri supaya sintren memiliki arti si putri atau sang penari.

Kesenian tari sintren pada mulanya dipentaskan pada saat yang sunyi di saat malam bulan purnama gara-gara kesenian tari ini terkait bersama roh halus yang masuk ke di dalam sang penari, tetapi kini pementasan tari sintren tidak ulang dikerjakan pada malam bulan purnama melainkan bisa termasuk dipentaskan pada siang hari dan bertujuan untuk menghibur wisatawan dan juga memeriahkan acara hajatan.

Dikutip berasal dari cirebonkota.go.id, Tari Sintren termasuk dipergunakan oleh para wali untuk menyebarkan dakwah Islam dan mengajarkan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan sehari-hari. Penari sintren yang di dalam kondisi tidak tahu dan kemudian menari, saat dilemparkan duwit bersama kuantitas berapapun akan membawa dampak penarinya jatuh dan tidak bisa berdiri sendiri sebelum akan didirikan oleh dalang sintren.

Menurut Ki Mamat yang merupakan dalang sintren berasal dari sanggar tari Sekar Pandan, kesultanan Kacirebonan, nilai-nilai dakwah Islam yang dibawa oleh pagelaran sintren adalah:

Ranggap(Kurungan Ayam), wujud kurungan ayam yang melengkung berusaha mengingatkan pada manusia yang lihat bahwa wujud melengkung itulah wujud berasal dari fase hidup manusia di mana manusia berasal dari bawah akan berusaha menuju puncak, tetapi sesudah berada dipuncaknya manusia ulang ulang ke bawah, berasal dari tanah ulang menjadi tanah, dilahirkan di dalam kondisi lemah akan ulang pada kondisi yang lemah pula.

Duit(Uang), duwit yang dilempar membawa dampak penari sintren segera jatuh lemas artinya di di dalam kehidupan manusia jangan selalu mendahulukan duniawi, terlalu serakah ke duniawi akan membawa dampak manusia jatuh.

5. Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung merupakan tarian asli khas Pangandaran. Menurut sumber normalitas perkembangan tari ronggeng gunung mengalami perubahan nama akibat generasi penerusnya.

“Ada tiga sebutan untuk pertunjukan ronggeng yakni Ronggeng Gunung, Ronggeng Kaler, dan Ronggeng Amen atau Ronggeng Kidul,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Tonton Guntar

Namun perubahan nama itu tidak memengaruhi estetika di dalam tarian ronggeng. Perkembangan ronggeng itu berada di Kecamatan Langkaplancar, Mangunjaya, Padaherang, Pangandaran dan Sidamulih.

Dari buku yang ditulis prof. Dr. Nina Herlina Lubis bersama judul “Pangandaran Dari Masa ke Masa” menyebutkan bahwa Ronggeng gunung merupakan wujud awal berasal dari seni pertunjukan Ronggeng yang diyakini berasal berasal dari tempat pegunungan Pangandaran.

Sementara itu, wujud pertunjukan Ronggeng Kala merupakan pengembangan berasal dari Ronggeng Gunung umumnya di dalam pertunjukan ini. Ronggengnya terdiri berasal dari dua orang dan gamelan pengiringnya lengkap disertai bersama lagu-lagu kliningan.

Pagelaran Ronggeng Kaler dikhususkan hanya untuk hiburan di dalam perhelatan perkawinan atau khitanan dan tidak dipertunjukkan di dalam ritual.

Ronggeng Amen termasuk merupakan perkembangan berasal dari Ronggeng Gunung. Pada mulanya pertunjukan Ronggeng Amen disebut Ronggeng Ngamen, tetapi lama kelamaan beralih nama menjadi Ronggeng Amen.

Dalam penyajiannya Ronggeng Amen lebih banyak melibatkan penonton untuk menari bersama ronggeng. Selain itu, lagu yang dibawakan pun lebih variatif, andaikata bercampur bersama lagu dangdut atau kliningan, yang pada intinya bisa menarik perhatian banyak penonton.

Seiring perkembangan zaman saat ini tari ronggeng gunung menjadi seni normalitas hiburan yang dipakai masyarakat Pangandaran pada prosesi hajatan, event, dan syukuran-syukuran lainnya.

Ada arti yang terkandung di dalam tari ronggeng gunung yang menarik. Karena lebih seru jika dibawakan oleh banyak penari bersama posisi melingkar. “Sarendeuk saigel sabobot sapihanean, artinya tiap tiap gerakan wajib se irama, selalu bersama-sama tak pernah bertengkar gara-gara tidak sama pendapat, rukun dan saling menghargai,” ucapnya.